News Update :

HATI ADALAH KERAJAAN

Selasa, 10 Desember 2013



Hati kerajaan di dalam tubuh,
jikalau zalim segala anggota pun roboh.


“Hati ibarat raja, sedangkan anggota badan adalah pasukannya. Apabila baik rajanya maka baik pula pasukannya, apabila buruk rajanya maka buruk pula pasukannya.”.

Hati itu ibarat raja. Sedangkan anggota badan adalah pasukannya. Pasukan sangat bergantung bagaimana rajanya. Bila baik rajanya maka baik pula pasukannya. Sebaliknya, bila buruk rajanya maka buruk pula pasukannya. Demikian juga dengan hati sangat menentukan perilaku anggota badannya. Jika hatinya baik maka perilaku anggota badannya Insya Allah baik. Jika hatinya buruk maka perilakunya juga buruk.  Sebagaimana yang ditegaskan Abu Hurairah :
الْقَلْبُ مَلِكٌ وَالأَعْضَـاءُ جُنُوْدُهُ، فَإِذَا طَـابَ الْمَلِكُ طَابَ الْجُنُوْدُ وَإِذَا خَبُثَ الْمَلِكُ خَبُثَ جُنُوْدُهُ
“Hati ibarat raja, sedangkan anggota badan adalah pasukannya. Apabila baik rajanya maka baik pula pasukannya, apabila buruk rajanya maka buruk pula pasukannya.” [Atsar Shahih: riwayat al-Baihaqi dalam al-Jaami’ li Syu’abil-iimaan: 1/257, no. 108]
Jika kita cermati, intisari ungkapan Abu Hurairah Rodhiyallahu ‘anhu inilah yang menjadi inspirasi Raja Ali Haji rohimahullah  menyusun bait gurindamnya ; Hati kerajaan di dalam tubuh,  jikalau zalim segala anggota pun roboh.
Semua  hal tersebut di atas sejalan dengan sabda Rasulullah SAW :
أَلاَ وَإِنَّ فِى الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَـحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ . أَلاَ وَهِىَ الْقَلْبُ
“...Ingatlah bahwa di dalam tubuh manusia itu adalah segumpal daging. Apabila ia baik, maka baik pula seluruh tubuhnya. Dan apabila ia buruk maka buruk pula seluruh tubuhnya. Ketahuilah, segumpal daging itu adalah hati.” [Bukhari no. 52 dan Muslim no. 1599]
Oleh karena itu, manusia harus selalu menjaga hatinya. Sebab hati manusia adalah organ yang paling mudah berubah-ubah dan bergonta-ganti halauan. Nabi Shallallohu ‘alaihi wa Sallam bersabda, “Hati manusia itu lebih mudah berbolak-balik dibandingkan dengan panci yang berisi penuh air mendidih.” (Ahmad, IV : 4)
Konon apabila mendengar berita kematian seseorang dalam kondisi baik, Abu Darda berkata, ‘Alangkah beruntungnya dia. Seandainya aku bisa menggantikan posisinya.’ Ummu Darda, istri beliau, serta merta berkata, ‘Aku lihat, setiap kali mendengar berita kematian seseorang, engkau berkata Alangkah beruntungnya dia ! Seandainya aku bisa menggantikan posisinya ! Kenapa demikian?’ Abu Darda balik bertanya, ‘Apakah engkau tidak menyadari, bahwa terkadang seseorang menjadi mukmin di pagi hari, namun sore harinya menjadi munafik?’ Ummu Darda balik bertanya pula, ‘Bagaimana itu bisa terjadi?’ Abu Darda menjawab, ‘Terkadang iman seseorang dicabut dari hatinya, sementara ia tidak menyadarinya. Oleh sebab itu, dengan kematiannya itu, ia membuatku lebih iri daripada dengan segala sholat dan puasa yang pernah dilakukannya.’ (az-Zuhd oleh Ibnul Mubarok, I : 4)
Maha Suci Alloh !!! Demikianlah hati seorang Abu Darda, seorang sahabat Nabi yang agung, seorang yang amat dihormati di kalangan para sahabat sendiri! Bagaimana ia bisa merasa demikian khawatir terhadap arti kehidupannya? Kenapa dia merasa demikian takut bila hatinya mengalami perubahan ke arah yang lebih buruk? Sehingga ia demikian merasa iri terhadap orang yang meninggal dengan husnul khotimah! Itulah hasil puncak dari sebuah ketaqwaan, dari hati yang bersih.
Nabi Shallallohu ‘alaihi wa Sallam bersabda, “Hati disebut qolb (yang berbolak-balik), karena kondisinya memang suka berbolak-balik. Perumpaan hati itu seperti bulu yang mencap di akar pohon, ia akan berbolak-balik tak karuan digerakkan oleh angin.” (Ahmad, IV : 408)
Selain itu, berbagai godaan dan kegemerlapan dunia, sering sekali menjadi penyebab hati manusia menjadi semakin tidak stabil. Tanpa kunci ketaqwaan dan keimanan yang kuat, hati akan mudah tergoda.
Nabi Shallallohu ‘alaihi wa Sallam bersabda, “Berbagai bentuk godaan dihadapkan kepada hati seperti hamparan tikar, seutas demi seutas. Hati manapun yang menolak godaan tersebut, pasti akan terselimuti noktah puith. Akhirnya, seluruh hati akan kembali kepada dua kondisi saja: hati yang hitam legam seperti kendi yang terbalik, tidak dapat mengenal kebenaran dan tidak dapat menolak kemungkaran, hanya mengikuti hawa nafsunya saja. Dan kedua, hati yang putih bersih, tidak akan tergoda oleh fitnah apapun selama bumi dan langit masih tegak.” (HR. Muslim)
Hati sehat
Hati yang sehat adalah hati yang mencintai apa yang dicintai Allah dan membenci apa yang dibenci Allah. Menjalankan segala sesuatu semata-mata karena Allah. Meninggalkan segala sesuatu juga karena Allah.  Segala sesuatu mengingatkan dirinya kepada keagungan Allah. Segalanya selalu dihubungkan dengan Allah. Bila betindak selalu melihat apakah yang diperbuat termasuk perintah atau larangan Allah. Seperti inilah hati orang-orang yang sholih dan taqwa. Sebagaimana dilukiskan Al-Qur’an :
 tPöqtƒ Ÿw ßìxÿZtƒ ×A$tB Ÿwur tbqãZt/ ÇÑÑÈ   žwÎ) ô`tB tAr& ©!$# 5=ù=s)Î/ 5OŠÎ=y ÇÑÒÈ  
(yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang sehat selamat (QS. As-Syuara : 88-89)
Setiap manusia selalu berharap hatinya sehat dan selamat. Namun demikian, tidak semua orang bisa menggapai harapan tersebut. Sungguh segala sesuatu tidak bisa diraih hanya dengan berharap, tapi harus dengan berusaha sungguh-sungguh untuk meraih yang dinginkanya.  Allah Swt berfirman :
$ygyJolù;r'sù $yduqègéú $yg1uqø)s?ur ÇÑÈ   ôs% yxn=øùr& `tB $yg8©.y ÇÒÈ  
Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu (QS. Asy-Syams ; 8-9)
Hati mati
Hati mati adalah hati yang tidak mengenal Allah SWT. Tidak beribadah kepada-Nya, dengan tidak menjalankan perintah dan hal apapun yang diridhai-Nya. Hati yang seperti ini selalu berjalan bersama keinginannya semata, walaupun itu dibenci dan dimurkai Allah. Ia tidak peduli apakah Allah  ridha kepadanya atau tidak.
Bila ia mencintai sesuatu, ia mencintainya karena mengikuti hawa nafsunya. Begitu pula apabila ia membenci sesuatu, ia membencinya karena hawa nafsunya. Manusia yang seperti ini hidupnya dikuasai oleh hawa nafsunya, bahkan nafsunya menjadi pemimpin sekaligus pengendali bagi dirinya. Kebodohan dan kelalaian adalah supirnya. Ia diselubungi, dipenjara oleh kecenderungan / kecintaannya kepada dunia (yaitu hal-hal selain Allah Ta'ala dan Rasul-Nya). Hatinya telah ditutupi oleh selubung kabut gelap cinta kehidupan dunia dan hawa nafsunya.
Ia tidak menyambut dan menerima panggilan Allah, seruan Allah, seruan tentang hari kiamat, karena ia mengikuti syaitan yang menunggangi hawa (nafsu) nya. Hawa nafsunya telah membuatnya tuli dan buta, sehingga ia tidak tahu lagi mana yang haq dan mana yang batil. Maka berteman dan bergaul dengan orang-orang yang hatinya telah mati seperti ini berarti mencari penyakit.
§NèO ôM|¡s% Nä3ç/qè=è% .`ÏiB Ï÷èt/ šÏ9ºsŒ }Îgsù Íou$yÚÏtø:$$x. ÷rr& x©r& Zouqó¡s% 4 ¨bÎ)ur z`ÏB Íou$yfÏtø:$# $yJs9 ㍤fxÿtFtƒ çm÷ZÏB ㍻yg÷RF{$# 4 ¨bÎ)ur $pk÷]ÏB $yJs9 ß,¤)¤±o ßlã÷uŠsù çm÷YÏB âä!$yJø9$# 4 ¨bÎ)ur $pk÷]ÏB $yJs9 äÝÎ6öku ô`ÏB ÏpuŠô±yz «!$# 3 $tBur ª!$# @@Ïÿ»tóÎ/ $£Jtã tbqè=yJ÷ès? ÇÐÍÈ  
Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi. Padahal diantara batu-batu itu sungguh ada yang mengalir sungai-sungai dari padanya dan diantaranya sungguh ada yang terbelah lalu keluarlah mata air dari padanya dan diantaranya sungguh ada yang meluncur jatuh, karena takut kepada Allah. dan Allah sekali-sekali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan.
Share this Article on :

0 komentar:

Posting Komentar

 

© Copyright Website Ustadz H Luqman Rifai 2010 -2011 | Design by Herdiansyah Hamzah | Published by Borneo Templates | Powered by Blogger.com.