Hati
kerajaan di dalam tubuh,
jikalau
zalim segala anggota pun roboh.
“Hati ibarat raja,
sedangkan anggota badan adalah pasukannya. Apabila baik rajanya maka baik pula
pasukannya, apabila buruk rajanya maka buruk pula pasukannya.”.
Hati itu ibarat raja. Sedangkan anggota
badan adalah pasukannya. Pasukan sangat bergantung bagaimana rajanya. Bila baik rajanya maka baik pula pasukannya. Sebaliknya, bila buruk rajanya maka buruk pula pasukannya. Demikian juga dengan
hati sangat menentukan perilaku anggota badannya. Jika hatinya baik maka
perilaku anggota badannya Insya Allah baik. Jika hatinya buruk maka
perilakunya juga buruk. Sebagaimana yang
ditegaskan Abu Hurairah :
الْقَلْبُ مَلِكٌ وَالأَعْضَـاءُ جُنُوْدُهُ، فَإِذَا
طَـابَ الْمَلِكُ طَابَ الْجُنُوْدُ وَإِذَا خَبُثَ الْمَلِكُ خَبُثَ جُنُوْدُهُ
“Hati ibarat raja,
sedangkan anggota badan adalah pasukannya. Apabila baik rajanya maka baik pula
pasukannya, apabila buruk rajanya maka buruk pula pasukannya.” [Atsar Shahih:
riwayat al-Baihaqi dalam al-Jaami’ li Syu’abil-iimaan: 1/257, no. 108]
Jika kita cermati, intisari
ungkapan Abu Hurairah Rodhiyallahu ‘anhu inilah yang menjadi inspirasi
Raja Ali Haji rohimahullah menyusun
bait gurindamnya ; Hati
kerajaan di dalam tubuh, jikalau zalim segala anggota pun roboh.
Semua hal tersebut di atas sejalan dengan sabda
Rasulullah SAW :
أَلاَ وَإِنَّ فِى الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ
صَلَـحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ . أَلاَ
وَهِىَ الْقَلْبُ
“...Ingatlah bahwa di
dalam tubuh manusia itu adalah segumpal daging. Apabila ia baik, maka baik pula
seluruh tubuhnya. Dan apabila ia buruk maka buruk pula seluruh tubuhnya.
Ketahuilah, segumpal daging itu adalah hati.” [Bukhari no. 52 dan Muslim no. 1599]
Oleh karena itu, manusia harus selalu menjaga
hatinya. Sebab hati manusia adalah organ yang paling mudah berubah-ubah dan
bergonta-ganti halauan. Nabi Shallallohu
‘alaihi wa Sallam bersabda, “Hati
manusia itu lebih mudah berbolak-balik dibandingkan dengan panci yang berisi
penuh air mendidih.” (Ahmad, IV :
4)
Konon apabila mendengar berita kematian
seseorang dalam kondisi baik, Abu Darda berkata, ‘Alangkah beruntungnya dia.
Seandainya aku bisa menggantikan posisinya.’ Ummu Darda, istri beliau, serta
merta berkata, ‘Aku lihat, setiap kali mendengar berita kematian seseorang,
engkau berkata Alangkah beruntungnya dia ! Seandainya aku bisa menggantikan
posisinya ! Kenapa demikian?’ Abu Darda balik bertanya, ‘Apakah engkau tidak
menyadari, bahwa terkadang seseorang menjadi mukmin di pagi hari, namun sore
harinya menjadi munafik?’ Ummu Darda balik bertanya pula, ‘Bagaimana itu bisa
terjadi?’ Abu Darda menjawab, ‘Terkadang iman seseorang dicabut dari hatinya,
sementara ia tidak menyadarinya. Oleh sebab itu, dengan kematiannya itu, ia
membuatku lebih iri daripada dengan segala sholat dan puasa yang pernah
dilakukannya.’ (az-Zuhd oleh Ibnul Mubarok, I : 4)
Maha Suci Alloh !!! Demikianlah hati seorang
Abu Darda, seorang sahabat Nabi yang agung, seorang yang amat dihormati di
kalangan para sahabat sendiri! Bagaimana ia bisa merasa demikian khawatir
terhadap arti kehidupannya? Kenapa dia merasa demikian takut bila hatinya
mengalami perubahan ke arah yang lebih buruk? Sehingga ia demikian merasa iri
terhadap orang yang meninggal dengan husnul khotimah! Itulah hasil puncak dari sebuah
ketaqwaan, dari hati yang bersih.
Nabi Shallallohu
‘alaihi wa Sallam bersabda, “Hati
disebut qolb (yang berbolak-balik), karena kondisinya memang suka
berbolak-balik. Perumpaan hati itu seperti bulu yang mencap di akar pohon, ia
akan berbolak-balik tak karuan digerakkan oleh angin.” (Ahmad, IV : 408)
Selain itu, berbagai godaan dan kegemerlapan
dunia, sering sekali menjadi penyebab hati manusia menjadi semakin tidak
stabil. Tanpa kunci ketaqwaan dan keimanan yang kuat, hati akan mudah tergoda.
Nabi Shallallohu
‘alaihi wa Sallam bersabda, “Berbagai
bentuk godaan dihadapkan kepada hati seperti hamparan tikar, seutas demi
seutas. Hati manapun yang menolak godaan tersebut, pasti akan terselimuti
noktah puith. Akhirnya, seluruh hati akan kembali kepada dua kondisi saja: hati
yang hitam legam seperti kendi yang terbalik, tidak dapat mengenal kebenaran
dan tidak dapat menolak kemungkaran, hanya mengikuti hawa nafsunya saja. Dan
kedua, hati yang putih bersih, tidak akan tergoda oleh fitnah apapun selama
bumi dan langit masih tegak.” (HR.
Muslim)
Hati sehat
Hati yang sehat adalah hati yang mencintai apa
yang dicintai Allah dan membenci apa yang dibenci Allah. Menjalankan segala
sesuatu semata-mata karena Allah. Meninggalkan segala sesuatu juga karena
Allah. Segala sesuatu mengingatkan
dirinya kepada keagungan Allah. Segalanya selalu dihubungkan dengan Allah. Bila
betindak selalu melihat apakah yang diperbuat termasuk perintah atau larangan
Allah. Seperti inilah hati orang-orang yang sholih dan taqwa. Sebagaimana
dilukiskan Al-Qur’an :
tPöqt
w
ßìxÿZt
×A$tB
wur
tbqãZt/
ÇÑÑÈ wÎ)
ô`tB
tAr&
©!$#
5=ù=s)Î/
5OÎ=y
ÇÑÒÈ
(yaitu) di hari harta
dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah
dengan hati yang sehat selamat (QS. As-Syuara
: 88-89)
Setiap manusia selalu berharap hatinya sehat dan
selamat. Namun demikian, tidak semua orang bisa menggapai harapan tersebut. Sungguh
segala sesuatu tidak bisa diraih hanya dengan berharap, tapi harus dengan berusaha
sungguh-sungguh untuk meraih yang dinginkanya.
Allah Swt berfirman :
$ygyJolù;r'sù
$yduqègéú
$yg1uqø)s?ur
ÇÑÈ ôs%
yxn=øùr&
`tB
$yg8©.y
ÇÒÈ
Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu
(jalan) kefasikan dan ketakwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang
mensucikan jiwa itu (QS.
Asy-Syams ; 8-9)
Hati mati
Hati mati adalah hati yang tidak mengenal Allah
SWT. Tidak beribadah kepada-Nya, dengan tidak
menjalankan perintah dan hal apapun yang diridhai-Nya. Hati yang seperti ini selalu berjalan bersama
keinginannya semata, walaupun itu dibenci dan dimurkai Allah. Ia tidak peduli
apakah Allah ridha kepadanya atau tidak.
Bila ia mencintai sesuatu, ia
mencintainya karena mengikuti hawa nafsunya. Begitu pula
apabila ia membenci sesuatu, ia membencinya karena hawa nafsunya. Manusia yang
seperti ini hidupnya dikuasai oleh hawa nafsunya, bahkan nafsunya menjadi
pemimpin sekaligus pengendali bagi dirinya. Kebodohan dan kelalaian adalah
supirnya. Ia diselubungi, dipenjara oleh kecenderungan / kecintaannya kepada
dunia (yaitu hal-hal selain Allah Ta'ala dan Rasul-Nya). Hatinya telah ditutupi
oleh selubung kabut gelap cinta kehidupan dunia dan hawa nafsunya.
Ia tidak menyambut dan menerima
panggilan Allah, seruan Allah, seruan tentang hari kiamat, karena ia mengikuti
syaitan yang menunggangi hawa (nafsu) nya. Hawa nafsunya telah membuatnya tuli
dan buta, sehingga ia tidak tahu lagi mana yang haq dan mana yang batil. Maka
berteman dan bergaul dengan orang-orang yang hatinya telah mati seperti ini
berarti mencari penyakit.
§NèO
ôM|¡s%
Nä3ç/qè=è%
.`ÏiB
Ï÷èt/
Ï9ºs
}Îgsù
Íou$yÚÏtø:$$x.
÷rr&
x©r&
Zouqó¡s%
4
¨bÎ)ur
z`ÏB
Íou$yfÏtø:$#
$yJs9
ã¤fxÿtFt
çm÷ZÏB
ã»yg÷RF{$#
4
¨bÎ)ur
$pk÷]ÏB
$yJs9
ß,¤)¤±o
ßlã÷usù
çm÷YÏB
âä!$yJø9$#
4
¨bÎ)ur
$pk÷]ÏB
$yJs9
äÝÎ6öku
ô`ÏB
Ïpuô±yz
«!$#
3
$tBur
ª!$#
@@Ïÿ»tóÎ/
$£Jtã
tbqè=yJ÷ès?
ÇÐÍÈ
Kemudian
setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi. Padahal
diantara batu-batu itu sungguh ada yang mengalir sungai-sungai dari padanya dan
diantaranya sungguh ada yang terbelah lalu keluarlah mata air dari padanya dan
diantaranya sungguh ada yang meluncur jatuh, karena takut kepada Allah. dan
Allah sekali-sekali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan.


0 komentar:
Posting Komentar